Istiakuntansi’s Weblog

About Me

Aku dilahirkan pada tanggal 29 September 1981 di Balapulang, salah satu nama desa dan kecamatan di kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Aku merupakan anak ke enam dari delapan bersaudara, hanya saja salah satu kakakku ada yang meninggal sejak dalam kandungan, sehingga sekarang kami hanya tujuh bersaudara. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang hebat. Meskipun beliau mempunyai ijazah PGA (Pendidikan Guru Agama), tapi karena Ayahku tidak mengizinkan ibuku untuk mengajar, maka demi ketatatan pada suami, maka ibuku merelakan untuk hanya menjadi ibu rumah tangga. Hanya beberapa tahun beliau mengajar di sebuah Madrasah ibtidaiyyah, setelah itu beliau mengikuti ujian CPNS, tapi ayahku tidak mengizinkan untuk melanjutkan. Padahal ayahku hanya seorang karyawan di suatu perusahaan swasta di Jakarta. Bisa dibayangkan, betapa  beratnya kehidupan ekonomi keluargaku pada saat itu, ayahku harus menghidupi seorang istri dan tujuh orang anak. meskipun ibuku bersikeras membantu ekonomi keluarga, tapi ayahku tetap pada pendiriannya, bahwa tugas ibuku adalah di rumah, mengurus rumah dan anak-anak.

Kadang kala aku iri pada teman-teman seprofesi/ sekantor Ayahku. Dengan pekerjaan yang sama, teman-teman Ayah bisa mempunyai rumah bagus, punya motor bahkan mobil. Sedangkan rumahku……. saat hujan deras, airnya masuk diiringi dengan masuknya katak ataupun binatang-binatang kecil lainnya. Belum lagi bocor di sana-sini. aku seringkali malu kalau teman-temanku ingin main ke rumahku. Untuk kendaraan, jangankan beli motor apalgi mobil, kendaraan yang kami punya hanyalah sepeda butut merk “Phoenix” warna merah (sepeda ini sangat bersejarah dalam hidupku). Untuk beli sepeda baru, kami harus menabung bertahun-tahun.

Meskipun kehidupan kami sangat pas-pasan, tapi orang tuaku sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Sejak masuk SD, saat itu juga kami disekolahkan madrasah pada sore harinya. Setelah  lulus SMP, selain melanjutkan ke SLTA, kami juga harus belajar di pesantren, bahkan adiikku sudah masuk pesantren sejak SMP. Tiga kakakku melanjtkan SMA dan pesantrennya di Cirebon. Mereka kemudian melanjutkan kuliah dan pesantrennya di Jogja. Adik bungsuku melanjutkan SMU di sebuah pesantren di Jombang. Aku sendiri melanjutkan SMU dan pesantren di Jogja sampai aku menempuh kuliah.

Alhamdulillah, aku dan saudara-saudara bisa menempuh pendidikan S1 di perguruan tinggi di Jogja. Hanya satu kakakku yang cuma lulusan D3 Akuntansi.  alhamdulillah juga aku dan saudara-saudaraku telah dapat hidup mandiri dengan pekerjaan yang cukup memadai. Saat ini ayahku hanya membiayai satu adik bungsukuku yang dalam 1 atau 2 tahun lagi menyelesaikan skripsinya.

Orang tuaku kini tinggal memetik buah dari apa yang mereka tanam sejak dulu, bukan harta atau tahta, tapi ilmu. Orang tuaku tidak meninggalkan warisan harta, rumah mewah, tanah apalagi sawah. Mereka tidak punya itu semua. Rumah yang sekarang mereka tinggali hanyalah rumah sederhana. Harta yang mereka wariskan adalah buku-buku dan kitab kuning. Dan warisan mereka yang sesungguhnya adalah ilmu yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Terima kasih ayah, Ibu… jazakumullah ahsanal jazaa

1 Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: